20.7.12

Cerita Cangkir [lil part]


Berada di kamarnya lagi malam ini. Sebuah portable speaker yang berdentum juga menemaninya di sampingku, seperti biasa. Sesachet kopi dan air panas beberapa waktu lalu diadukan dengan sendok. Kemudian perlahan aku diangkatnya dan dia mulai membaui aromaku, bukan, maksudku kopi yang dibuatnya di dalamku. Lalu seteguk cairan coklat gelap sudah dialirkan masuk ke kerongkongannya dan mulai berjalan menuju saluran dan organ berikutnya. Seperti bensin, mata yang selalu berkilat cerdik ,walaupun sebuah beban tidak dapat ditutupi, itu langsung memandangi layar yang sering dijudge beradiasi tinggi di hadapannya. Jari-jarinya mulai menekan barisan huruf, angka dan simbol-simbol lainnya.
Oh, malam ini dia menutup paksa sebuah cerita yang dibuatnya. Banyak yang belum disampaikan sepertinya, tetapi akhir sudah dituliskan. Matanya lalu berkaca-kaca, tetapi bibirnya perlahan tersenyum. Lega. Sudah cukup mungkin untuknya terus tenggelam di entah apa yang mejungkir balik dunianya. Walaupun dia belum sepenuhnya mentas, still need a time, untuk saat ini setidaknya dadanya lebih longgar.
“Cangkir, ampas kopi itu harus dibuang kan? Seenak apapun kopinya, ampas tetap saja ampas, nggak bisa diseduh lagi. Disimpan terus di cangkir buat apa? Malahan cangkir nggak bisa dipakai lagi gara-gara masih ada ampas yang ketinggalan,” dia memandangiku.
23:37, begitulah angka yang ada di jam digitalnya. Hampir larut, cairan coklat gelap itu pun semakin berkurang. Seteguk lagi. Dia kemudian menarik nafas, membuka sebuah file lainnya. Sepertinya ada yang lain yang harus diselesaikan juga malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar