Lama, dia memandanginya. Jari-jarinya berada di atas tuts huruf tetapi hanya tergeletak begitu saja. Kopi di dalamku hanya tersisa ampas. Sekali-kali dia melirikku, berharap cairan coklat gelap masih terlihat melayang di atas ampas. Kemudian dia melihat angka di pojok desktop, 23:53, sepertinya isi kepalanya mogok kerja setelah mencoba menghapus paksa beberapa memori. Sebuah file lagi, berharap yang ini dapat mengalihkannya. Sebuah video amatir ternyata. Dan memang, kemudian pikirannya cukup teralih. Mata cerdik itu, mulai menyiratkan energi yang sempat redup ketika menutup sebuah cerita tadi. Sebuah keyakinan kembali muncul. Yah, sekarang hanya mereka, untuk mereka.
“Cangkir, ini satu cerita untuk tua. Walaupun kopi yang lama harus dibuang, ini isi cangkir yang baru. Bukan kopi berampas, kopi instant. Mungkin rasa vanilla latte. Hangat, manis yang dinantikan, pahit yang menyenangkan, just like this brotherhood.” Pandangannya menerawang, bukan kosong, beberapa slide sedang bermain di kepalanya, cerita tentang bersama. “Sedap aromanya mungkin tidak tajam seperti kopi yang berampas, ini ringan, tapi nikmat,” dia tersenyum.
02:06, baru saja dia menutup beberapa file yang dikerjakannya hampir bersamaan. Ada beberapa yang belum selesai memang, tetapi setidaknya sudah terjamah, isi kepalanya hampir bekerja normal. Setelah dia membereskan some stuffs, termasuk aku, akhirnya dia bersembunyi dibalik selimutnya lalu lelap.
.the story of me.
.all about my mind, everything I want to share.
7.8.12
20.7.12
to starting
Mulai, sebuah kata yang sangat sederhana. Dengan 'mulai' waktu mulai dihitungkan sampai pada selesai dan kemudian tadaa.. sebuah karya tercipta, sebuah rangkaian aktivitas berhenti.
Bagaimana dengan memulai mulai? Mengapa diam, terpaku? Banyak yang dipertimbangkan? Tidak juga, untuk berani mulai berarti sebuah rencana sudah terkonsep dengan pertimbangan-pertimbangannya. Sesederhana apapun itu. Lalu? Apa ragu? Takut? Bukankah dengan mau 'mulai', berarti siap? Dari mana mau 'mulai'? Bukankah dengan mau 'mulai' sudah ada rencana dan tujuan? Dari sanalah mulai. Apalagi??
Do it now or you never get it.
Bagaimana dengan memulai mulai? Mengapa diam, terpaku? Banyak yang dipertimbangkan? Tidak juga, untuk berani mulai berarti sebuah rencana sudah terkonsep dengan pertimbangan-pertimbangannya. Sesederhana apapun itu. Lalu? Apa ragu? Takut? Bukankah dengan mau 'mulai', berarti siap? Dari mana mau 'mulai'? Bukankah dengan mau 'mulai' sudah ada rencana dan tujuan? Dari sanalah mulai. Apalagi??
Do it now or you never get it.
Cerita Cangkir [lil part]
Berada di kamarnya lagi malam ini. Sebuah portable speaker yang berdentum juga menemaninya di sampingku, seperti biasa. Sesachet kopi dan air panas beberapa waktu lalu diadukan dengan sendok. Kemudian perlahan aku diangkatnya dan dia mulai membaui aromaku, bukan, maksudku kopi yang dibuatnya di dalamku. Lalu seteguk cairan coklat gelap sudah dialirkan masuk ke kerongkongannya dan mulai berjalan menuju saluran dan organ berikutnya. Seperti bensin, mata yang selalu berkilat cerdik ,walaupun sebuah beban tidak dapat ditutupi, itu langsung memandangi layar yang sering dijudge beradiasi tinggi di hadapannya. Jari-jarinya mulai menekan barisan huruf, angka dan simbol-simbol lainnya.
Oh, malam ini dia menutup paksa sebuah cerita yang dibuatnya. Banyak yang belum disampaikan sepertinya, tetapi akhir sudah dituliskan. Matanya lalu berkaca-kaca, tetapi bibirnya perlahan tersenyum. Lega. Sudah cukup mungkin untuknya terus tenggelam di entah apa yang mejungkir balik dunianya. Walaupun dia belum sepenuhnya mentas, still need a time, untuk saat ini setidaknya dadanya lebih longgar.
“Cangkir, ampas kopi itu harus dibuang kan? Seenak apapun kopinya, ampas tetap saja ampas, nggak bisa diseduh lagi. Disimpan terus di cangkir buat apa? Malahan cangkir nggak bisa dipakai lagi gara-gara masih ada ampas yang ketinggalan,” dia memandangiku.
23:37, begitulah angka yang ada di jam digitalnya. Hampir larut, cairan coklat gelap itu pun semakin berkurang. Seteguk lagi. Dia kemudian menarik nafas, membuka sebuah file lainnya. Sepertinya ada yang lain yang harus diselesaikan juga malam ini.
14.11.09
...
feel so stuck
fell so bored
want to go to anywhere for put my mind
but now I go to nowhere
standing here can't feel anything
yeah..
just smile outside, scream inside
fell so bored
want to go to anywhere for put my mind
but now I go to nowhere
standing here can't feel anything
yeah..
just smile outside, scream inside
ini realita
Ini adalah sebuah realita
Seorang gadis yang sedang menikmati dunia,
menikmati kebahagiaan yang fana
Dia yang terperosok dalam,
terjatuh di jurang kelam
Ini adalah realita
Kegelapan telah menjadi pelitanya,
dan cahaya tak lagi dihiraukannya
Mengumbar semua yang dia punya,
hanya untuk dapatkan perhatian mereka
Tak kurang-kurang emaknya menangis,
melihat tingkah laku sang gadis
Ketika sang emak sakit,
dia malah asik menikmat alunan diskotik
dia tak peduli,
menutup telinga dan hati
Lalu di mana gadis kecil yang lugu itu?
Yang selalu tertidur ditimang emaknya,
yang setiap sore melantunkan ayat-ayat suci-Nya
di mana?
Dia tersesat,
tak tahu jalan pulang
atau memang tak ingin pulang
Dia terjatuh,
terperosok di jurang kelam
sampai tak bisa melihat terang
Kini kepalsuan menjadi bahagianya
Kebbohongan membuat senyum di wajahnya
Ya, ini realita,
bukan sebuah prosa
Seorang gadis yang sedang menikmati dunia,
menikmati kebahagiaan yang fana
Dia yang terperosok dalam,
terjatuh di jurang kelam
Ini adalah realita
Kegelapan telah menjadi pelitanya,
dan cahaya tak lagi dihiraukannya
Mengumbar semua yang dia punya,
hanya untuk dapatkan perhatian mereka
Tak kurang-kurang emaknya menangis,
melihat tingkah laku sang gadis
Ketika sang emak sakit,
dia malah asik menikmat alunan diskotik
dia tak peduli,
menutup telinga dan hati
Lalu di mana gadis kecil yang lugu itu?
Yang selalu tertidur ditimang emaknya,
yang setiap sore melantunkan ayat-ayat suci-Nya
di mana?
Dia tersesat,
tak tahu jalan pulang
atau memang tak ingin pulang
Dia terjatuh,
terperosok di jurang kelam
sampai tak bisa melihat terang
Kini kepalsuan menjadi bahagianya
Kebbohongan membuat senyum di wajahnya
Ya, ini realita,
bukan sebuah prosa
13.11.09
.untitled.
Terlalu lama kutipu diri...
Tak pernah tau ke mana harus melangkah,
tapi aku terus saja berjalan
Tak pernah tau siapa diri ini, apa diri ini,
hanya menutupi dengan topeng sampai aku tak mengenalnya
Ingin aku berteriak
keras, sampai tak ada yang mendengar
Apakah ini hidup?
Akankah selalu penuh dengan kepalsuan?
Inginkan sebuah cerita,
inginkan sebuah cinta,
tapi akankah semua nyata, bukan palsu...
Tak pernah tau ke mana harus melangkah,
tapi aku terus saja berjalan
Tak pernah tau siapa diri ini, apa diri ini,
hanya menutupi dengan topeng sampai aku tak mengenalnya
Ingin aku berteriak
keras, sampai tak ada yang mendengar
Apakah ini hidup?
Akankah selalu penuh dengan kepalsuan?
Inginkan sebuah cerita,
inginkan sebuah cinta,
tapi akankah semua nyata, bukan palsu...
Langganan:
Postingan (Atom)