Lama, dia memandanginya. Jari-jarinya berada di atas tuts huruf tetapi hanya tergeletak begitu saja. Kopi di dalamku hanya tersisa ampas. Sekali-kali dia melirikku, berharap cairan coklat gelap masih terlihat melayang di atas ampas. Kemudian dia melihat angka di pojok desktop, 23:53, sepertinya isi kepalanya mogok kerja setelah mencoba menghapus paksa beberapa memori. Sebuah file lagi, berharap yang ini dapat mengalihkannya. Sebuah video amatir ternyata. Dan memang, kemudian pikirannya cukup teralih. Mata cerdik itu, mulai menyiratkan energi yang sempat redup ketika menutup sebuah cerita tadi. Sebuah keyakinan kembali muncul. Yah, sekarang hanya mereka, untuk mereka.
“Cangkir, ini satu cerita untuk tua. Walaupun kopi yang lama harus dibuang, ini isi cangkir yang baru. Bukan kopi berampas, kopi instant. Mungkin rasa vanilla latte. Hangat, manis yang dinantikan, pahit yang menyenangkan, just like this brotherhood.” Pandangannya menerawang, bukan kosong, beberapa slide sedang bermain di kepalanya, cerita tentang bersama. “Sedap aromanya mungkin tidak tajam seperti kopi yang berampas, ini ringan, tapi nikmat,” dia tersenyum.
02:06, baru saja dia menutup beberapa file yang dikerjakannya hampir bersamaan. Ada beberapa yang belum selesai memang, tetapi setidaknya sudah terjamah, isi kepalanya hampir bekerja normal. Setelah dia membereskan some stuffs, termasuk aku, akhirnya dia bersembunyi dibalik selimutnya lalu lelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar